MANILA, SABTU - Banyaknya pria Asia yang menjadi pelanggan prostitusi menjadi perantara penting dalam penyebaran HIV/AIDS di wilayah Asia Pasifik, demikian lapor sejumlah pejabat kesehatan PBB di Manila, Jumat (28/11).
Pada acara peluncuran bank data on-line mengenai HIV/AIDS, Anupama Rao Singh, Direktur Regional Asia Timur-Pasifik UNICEF, mengatakan ada sekitar 75 juta pria Asia yang biasa membeli seks dari 10 juta perempuan Asia yang menjualnya. Data yang diungkap Singh merupakan kajian Komisi AIDS di Asia.
"Kami tak dapat mengabaikan ancaman penyebaran HIV yang terus berlangsung lewat perdagangan seks karena dampak kecenderungan HIV di kalangan perempuan dan anak-anak sangat besar," ujar Singh.
Ia menegaskan, di Asia banyak sekali kasus istri terinfeksi oleh suaminya atau pasangan seks mereka yang terbiasa melakukan seks tidak aman. Dan virus itu masih dapat ditularkan ke generasi berikutnya ketika para istri tersebut hamil.
Para ahli dari UNICEF, UNAIDS, WHO, dan Bank Pembangunan Asia (ADB) berkumpul Jumat kemarin di Manila guna mengungkap bank data on-line yang akan memudahkan peneliti, pembuat kebijakan dan organisasi sipil yang ingin melakukan penelitian HIV/AIDS di wilayah itu.
Laman itu (www.aidsdatahub.org) berisi data yang terus diperbarui mengenai petunjuk penting HIV/AIDS dan reaksi nasional di 24 negara di berbagai wilayah di Asia timur, tenggara dan selatan.
Pada acara tersebut, Amala Reddy, penasehat program regional UNAIDS Asia dan Pasifik, memperingatkan bahwa karena banyaknya pria yang membeli seks, mereka telah menjadi "faktor kuat" dalam penyebaran HIV/AIDS di wilayah itu.
Ia mengatakan, sekitar 50 juta perempuan di Asia tidak punya kegiatan selain menjadi istri dari pria yang cenderung membeli seks dan berisiko besar terserang HIV/AIDS.
Menurut data UNICEF, perempuan Asia yang dikategorikan sebagai kelompok beresiko rendah kini merepresentasikan kurang dari 25 persen dari seluruh penularan HIV. Akan tetapi jumlah tersebut bisa melesat menjadi 30 persen pada 2015 karena kebanyakan terinfeksi oleh suami atau pasangan seks mereka.
Reddy, yang mengutip laporan UNAIDS, menyatakan saat ini terdapat lima juta orang di Asia yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA) dan sebanyak 400.000 pengidap baru setiap tahun. Ia mengatakan, jumlah tersebut akan jauh membengkak jadi 500.000 hingga 2010 ketika jumlah gabungan kasus HIV penularan di Asia naik jadi 10 juta.
Namun Reddy mengatakan para ahli UNAIDS menduga persentasi infeksi di kalangan penduduk Asia takkan sampai sebanyak kasus di Afrika, karena kebanyakan penularan di Asia terpusat pada kelompok berisiko tinggi seperti pekerja seks, pengguna obat bius dengan menggunakan jarum suntik, pria yang berhubungan seks dengan pria.
Di Asia, terdapat sebanyak 20 juta pemakai obat bius dengan menggunakan jarum suntik dan pria yang melakukan hubungan seks dengan pria, demikian laporan Komisi AIDS di Asia, yang disiarkan awal tahun ini.
Massimo Ghidinelli, penasehat regional WHO mengenai HIV/AIDS. mengatakan selain pria yang membeli seks, pria yang melakukan hubungan seks dengan pria (MSM) tanpa menggunakan kondom adalah kelompok lain berisiko tinggi yang memerlukan perhatian khusus di wilayah tersebut.
Ia mengatakan WHO bahkan tak dapat memperoleh gambaran yang benar-benar tepat mengenai seberapa besar sesungguhnya sumbangan MSM pada penyebaran AIDS karena sensitifnya masalah itu dan pengabaian oleh pemerintah.
"Itu adalah fenomena baru dan kami menghadapi studi serta pemahaman yang tak memadai. Masalahnya mungkin jauh lebih besar dibandingkan dengan apa yang telah kita percaya," kata Ghidinelli,
Para pejabat kesehatan PBB mengatakan, penggunaan kondom masih menjadi cara yang efektif guna menghambat penyebaran virus tersebut. "Mesti ada upaya kesadaran massal, dorongan agresif mengenai penggunaan kondom. Pengalaman di Thailand dan Kamboja membuktikan itu berhasil," kata Reddy.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang